Pernahkah Anda melihat anak lain seusia anak Anda sudah pandai bermain musik, memenangkan lomba, jago olahraga, atau punya kemampuan yang begitu menonjol? Lalu tanpa sadar muncul pertanyaan, “Kok anak saya biasa-biasa saja, ya?”
Perasaan seperti ini cukup wajar. Apalagi di era media sosial, pencapaian anak orang lain begitu mudah terlihat. Namun masalahnya dimulai ketika orang tua menjadikan kemampuan anak lain sebagai standar untuk menilai anak sendiri.
Setiap Anak Punya Kapasitas yang Berbeda
Praktisi parenting dan pendidikan Charlotte Priatna menjelaskan bahwa setiap anak memiliki potensi. Namun potensi itu tidak selalu muncul dalam bentuk yang spektakuler.
Ada anak yang cepat menguasai musik, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang menonjol secara akademis, sementara yang lain mungkin memiliki kepekaan sosial, kreativitas, ketekunan, atau kemampuan praktis yang tidak langsung terlihat.
Karena itu, tugas orang tua bukan memastikan anak menjadi yang terbaik dibandingkan orang lain. Yang jauh lebih penting adalah membantu anak mengembangkan apa yang sudah ia miliki.
Dengan kata lain, bukan soal menjadi “the best”, tetapi menjadi “the best of you.”
Jangan Sampai Perbandingan Mematikan Potensinya
Ketika terus dibandingkan, anak bisa mulai merasa dirinya kurang berharga. Padahal bisa jadi kemampuan yang tampak sederhana hari ini sedang berada dalam proses bertumbuh.
Daripada berkata, “Lihat kakakmu, kok kamu tidak bisa seperti dia?”, orang tua dapat mulai memperhatikan hal-hal kecil. Apa yang membuat anak bersemangat? Aktivitas apa yang membuatnya penasaran? Apa yang ia lakukan dengan tekun tanpa banyak disuruh?
Di sinilah pentingnya stimulasi. Berikan kesempatan anak mencoba musik, olahraga, memasak, membaca, menggambar, berkebun, atau aktivitas lainnya tanpa langsung menuntut hasil.
Tuhan Tidak Mengukur Semua Anak dengan Standar yang Sama
Dalam perumpamaan tentang talenta, ada orang yang menerima lima talenta, ada yang menerima dua, dan ada yang menerima satu. Masing-masing tidak diminta menghasilkan jumlah yang sama, tetapi bertanggung jawab atas apa yang dipercayakan kepadanya.
Prinsip ini juga penting dalam mendidik anak. Anak Anda mungkin tidak menjadi juara kelas atau tampil paling menonjol. Namun jika ia sedang belajar menggunakan kemampuan yang Tuhan berikan dengan sungguh-sungguh, itu bukan sesuatu yang “biasa saja”.
Jadi, daripada khawatir karena anak tidak sehebat anak lain, tanyakanlah: Apakah saya sudah menolong anak ini berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya?
Sebab tujuan parenting bukan mencetak anak yang mengalahkan semua orang, tetapi menolongnya mengenali, mengembangkan, dan memakai setiap potensi yang Tuhan percayakan dalam hidupnya.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!